Bagikan melalui :
Benarkah Active Learning Mampu Meningkatkan Produktifitas
Penulis : Drs. Psi. Reksa Boeana - Tanggal : 12-Jan-2024
Bagaimana program Active Learning disusun,
sehingga mampu meningkatkan produktifitas? berikut yang menjadi pertimbangannya
:
1.
Active Learning Berisi Macam
Penyimpangan Yang Pernah Terjadi Di Perusahaan
Macam penyimpangan diidentifikasi, program Active Learning
dapat disesuaikan dengan kondisi di perusahaan. Semua karyawan yang mengerjakan
latihan berpikir Active Learning, sudah memahami macam penyimpangan sehingga
mereka tidak melakukan penyimpangan atau menjadi jauh lebih mudah ketika
ditegur atau diingatkan. Dengan menurunnya kasus penyimpangan, berarti terjadi
efisiensi terhadap Cost of Quality. Penyimpangan yang masih terjadi, berarti
adanya faktor kesengajaan karyawan, dan ini dibutuhkan ketegasan leader.
2.
Prosedur Dan Standart
Kerja
Desain prosedur dan standart kerja yang sering terjadi
kesalahan. HRD dapat mengetahui tingkat pemahaman karyawan terhadap prosedur
dan standart kerja. Karyawan cenderung mematuhi cara kerja yang ditetapkan.
3.
Pembentukan Kebiasaan
Berpikir
Desain latihan berpikir Active Learning mampu
menciptakan kebiasaan berpikir. Jawaban yang mudah dimana peserta latihan cukup
menjawab B atau S. Kecerobohan karena tidak memahami persoalan yang ditanyakan
menyebabkan karyawan terus berpikir bagaimana ia bisa menyelesaiakan latihan
pada materi yang ditugaskan. Kebiasaan berpikir, kesabaran dan ketelitian dapat
terbentuk, bukankah ini yang menyebabkan karyawan bertindak optimal.
4.
Pembentuk Kerangka
Berpikir
Manusia bertindak dan bersikap sesuai kerangka
berpikirnya. Ketika kerangka berpikirnya tidak mendukung peningkatan
produktifitas maka dibutuhkan upaya keras untuk mewujudkan produktifitas di
perusahaan.
a.
Orang yang percaya bahwa
kegagalan ada dalam hidup, maka ia mudah patah semangat ketika mendapatkan
hambatan.
b.
Karyawan yang meyakini bekerja
mencari uang, maka semangatnya menurun dan mudah kecewa ketika uang yang
diharapkan tak kunjung di terima.
c.
Karyawan yang meyakini bahwa
uang pensiun bisa meningkatkan kualitas hidupnya, maka ia memilih strategi yang
penting masuk kerja dan jangan buat kesalahan yang dapat di PHK.
d.
Karyawan yang yakin fokus pada
kerja mampu meningkatkan karirnya, maka tak pernah dapat menghasilkan
peningkatan perbaikan diri dan produktifitas.
e.
Karyawan yang memiliki
pemikiran buat apa kerja keras, karena yang diuntungkan adalah bos pemilik
perusahaan, maka tak pernah mampu meningkatkan kinerjanya.
f.
Karyawan yang merasa telah
berbuat kebaikan dengan bekerja sungguh-sungguh, tentu sulit untuk lakukan peningkatan
perbaikan diri dan cenderung mempertahankan cara kerjanya.
g.
Karyawan yang memandang keluhan
hal yang wajar maka sulit untuk memahami sumber keluhan.
h.
Karyawan yang tak mampu
mengelola keuangan diri dan tak ada yang mengingatkan, tentu akan berpengaruh pada
pekerjaan yang dilakukannya.
i.
Dan lain-lain. Masih banyak
kerangka berpikir yang perlu dibentuk dalam benak karyawan agar terjadi
peningkatan produktifitas. Inilah pentingnya memanusiakan karyawan agar dapat
hidup lebih baik sebab karyawan adalah aset.
5.
Berisi Praktek Terbaik Dari
Beberapa Perusahaan
Bagaimana seorang leader bekerja 1 jam, mampu
meningkatkan hasil produksi dari kebiasaan kerja 7 jam. Bagaimana menjamin
setiap orang mampu mencari barang dalam 3 menit. Bagaimana jumlah petugas
Gudang mampu diefisiensikan manakala mengatur Gudang bukan menata barang tetapi
pergerakannya. Bagaimana meningkatkan kecepatan pengiriman, sehingga jumlah
ritase meningkat. Banyak hal yang bisa dijadikan alternatif ide bagi peserta latihan
berpikir Active Learning.
6.
Penerapan Menyeluruh
Penerapan menyeluruh pada semua bagian akan terjadi
akumulasi perbaikan dengan menumbuhkan ide-ide perbaikkan yang bisa di generate
melalui latihan berpikir. Strategi untuk terjadinya peningkatan produktifitas
tidak hanya memperbaiki proses kerja tetapi juga bagaimana mereka bersedia
melakukannya.
7.
Membuka Pikiran Karyawan
Mematuhi SOP adalah kewajiban. Disisi lainnya, SOP
mencetak karyawan yang benar-benar patuh tetapi kehilangan peluang berpikir
kreatif. Tanpa berpikir kreatif maka peluang perbaikan menjadi berkurang.
8.
Waktu Yang Dibutuhkan
Singkat, Dan Dikerjakan Individu
Semua karyawan dapat berlatih dengan durasi waktu tak
mengganggu pekerjaan. Waktu latihan disetting dapat diselesaikan oleh karyawan
dalam periode 6 sampai dengan 10 menit. Sedangkan untuk leader disetting, mampu
diselesaikan dalam waktu 8 sampai dengan 18 menit.
Hadirnya program Active Learning yang kami desain selama
16 tahun dan telah mencapai lebih dari 6500 soal studi kasus kiranya dapat
membantu HRD atau manajemen dalam mengembangkan soft skill dan membentuk sikap
kerja yang dibutuhkan di perusahaan.
Salam sukses selalu
Drs. Psi. Reksa Boeana
Executive Partner PT. Smart Business
Solution
Bila bermanfaat, bagikan melalui :