Efektifitas Denda Dalam Mengurangi Penyimpangan



Bagikan melalui :





Banyak perusahaan menerapkan sistem denda untuk mengurangi penyimpangan yang terjadi. Pemikiran sederhana, yaitu untuk meningkatkan kedisiplinan yang menunjang optimalisasi pekerjaan. Ketidak hadiran karyawan tentu saja berpengaruh terhadap produktifitas. Kekurangan jumlah tim kerja menurunkan hasil yang dapat diperoleh.

Dalam menerapkan sistem denda perlu dilakukan dengan hati-hati dimana karyawan perlu diberikan pemahaman lebih dulu. Mengapa denda diberlakukan, apa manfaat denda bagi karyawan? Haruskah denda diberlakukan, ketika karyawan telah disiplin, apa fungsi denda? Pemahaman sistem denda, perlu disampaikan ke karyawan dan dapat diterima karyawan sebagai pembentuk karakter kerja yang menunjang karir karyawan.

Ketika muncul pernyataan-pernyataan karyawan yang berbicara negatif tentang sistem denda seperti : kog sedikit-sedikit main denda, yang banyak disampaikan ke karyawan masalah denda, salah sedikit di denda, saya baru pertama kali lakukan kesalahan juga di denda. Perkataan ini merupakan indikasi bahwa karyawan tak menerima sistem denda. Mereka tak berani bersuara tetapi pernyataannya menandakan mereka sakit hati.

Jika ini yang terjadi maka namanya karyawan sakit hati, tentu hasil kerjanya menjadi tidak optimal. Mereka patuh bukan dengan pemahaman tetapi untuk menghindari denda. Bahkan ada yang tetap melakukan penyimpangan meskipun harus membayar denda. Karyawan merasa sudah cukup dengan membayar denda atas keterlambatan hadirnya. Saya tidak masuk sudah tidak dibayar, dan tentu saja perusahaan tidak mengalami kerugian.

Siapa yang bertanggung jawab untuk meluruskan persepsi yang keliru tentang sistem denda yang diberlakukan. Ada jiuga perusahaan yang menaikkan angka denda ketika besaran denda tidak efektif dalam menurunkan angka penyimpangan. Bahkan ada juga perusahaan yang menerapkan bahwa uang denda bukan untuk perusahaan. Uang denda akan dikumpulkan dan disumbangkan ke panti asuhan. Besaran denda yang diperoleh, ditambah dengan sumbangan perusahaan sebesar dana denda yang terkumpul.

Sayangnya tindakan ini, yang tanpa disertai penjelasan yang tepat tak mengena pada sasaran dari diciptakan sistem denda. Ada pernyataan karyawan bahwa ia menjadi penyumbang terbesar atas dana yang diperuntukkan untuk kegiatan sosial karyawan. Mereka bangga dengan denda yang dibayarkannya.

Jika kita telaah. Dalam kehidupan tidak berlaku denda. Hidup menentukan pilihan, dan setiap pilihan akan memiliki konsekuensi. Denda hanya berlaku di manajemen perusahaan, manajemen pemerintahan dan tak ada dalam kehidupan.

Seseorang yang merokok tentu  ada yang mendapatkan peringatan dari istri di rumah. Jangan merokok di rumah, jangan merokok didepan anak-anak, jangan merokok terlalu banyak, ingat Kesehatan. Peringatan ini tak diindahkan, maka ketika sakit dan berobat ke dokter, maka dokter juga menganjurkan untuk mengurangi merokok atau disarankan berhenti. Bagi yang tetap kembali merokok, terus mengalami sesak nafas, sakit paru-paru, atau sampai tak sadarkan diri dan harus masuk ICU, maka yang bersangkutan menjadi tersadar dan berhenti untuk merokok.

Konsekuensi terus meningkat ketika kita tak mengindahkan peringatan. Hidup terus mengarah pada yang lebih baik, oleh karena itu konsekuensi membawa dampak yang baik. Kami menerapkan konsekuensi untuk penertiban karyawan bukan menerapkan denda. Besar kecilnya konsekuensi, karyawanlah yang menetapkan. Kita hanya menetapkan sistem mekanisme konsekuensi. Karyawan lebih menerima sistem konsekuensi daripada sistem denda.

 

Karyawan mendapatkan pemahaman melalui program latihan berpikir Active Learning. Berbagi tuk bermanfaat.

 

Salam improvement.


Bila bermanfaat, bagikan melalui :