Bagikan melalui :
Efektifitas Denda Dalam Mengurangi Penyimpangan
Penulis : Drs. Psi. Reksa Boeana - Tanggal : 13-Jan-2024
Banyak perusahaan menerapkan sistem denda
untuk mengurangi penyimpangan yang terjadi. Pemikiran sederhana, yaitu untuk
meningkatkan kedisiplinan yang menunjang optimalisasi pekerjaan. Ketidak hadiran
karyawan tentu saja berpengaruh terhadap produktifitas. Kekurangan jumlah tim
kerja menurunkan hasil yang dapat diperoleh.
Dalam menerapkan sistem denda perlu
dilakukan dengan hati-hati dimana karyawan perlu diberikan pemahaman lebih
dulu. Mengapa denda diberlakukan, apa manfaat denda bagi karyawan? Haruskah
denda diberlakukan, ketika karyawan telah disiplin, apa fungsi denda? Pemahaman
sistem denda, perlu disampaikan ke karyawan dan dapat diterima karyawan sebagai
pembentuk karakter kerja yang menunjang karir karyawan.
Ketika muncul pernyataan-pernyataan
karyawan yang berbicara negatif tentang sistem denda seperti : kog
sedikit-sedikit main denda, yang banyak disampaikan ke karyawan masalah denda,
salah sedikit di denda, saya baru pertama kali lakukan kesalahan juga di denda.
Perkataan ini merupakan indikasi bahwa karyawan tak menerima sistem denda.
Mereka tak berani bersuara tetapi pernyataannya menandakan mereka sakit hati.
Jika ini yang terjadi maka namanya karyawan
sakit hati, tentu hasil kerjanya menjadi tidak optimal. Mereka patuh bukan
dengan pemahaman tetapi untuk menghindari denda. Bahkan ada yang tetap
melakukan penyimpangan meskipun harus membayar denda. Karyawan merasa sudah
cukup dengan membayar denda atas keterlambatan hadirnya. Saya tidak masuk sudah
tidak dibayar, dan tentu saja perusahaan tidak mengalami kerugian.
Siapa yang bertanggung jawab untuk
meluruskan persepsi yang keliru tentang sistem denda yang diberlakukan. Ada
jiuga perusahaan yang menaikkan angka denda ketika besaran denda tidak efektif
dalam menurunkan angka penyimpangan. Bahkan ada juga perusahaan yang menerapkan
bahwa uang denda bukan untuk perusahaan. Uang denda akan dikumpulkan dan
disumbangkan ke panti asuhan. Besaran denda yang diperoleh, ditambah dengan
sumbangan perusahaan sebesar dana denda yang terkumpul.
Sayangnya tindakan ini, yang tanpa disertai
penjelasan yang tepat tak mengena pada sasaran dari diciptakan sistem denda.
Ada pernyataan karyawan bahwa ia menjadi penyumbang terbesar atas dana yang
diperuntukkan untuk kegiatan sosial karyawan. Mereka bangga dengan denda yang
dibayarkannya.
Jika kita telaah. Dalam kehidupan tidak
berlaku denda. Hidup menentukan pilihan, dan setiap pilihan akan memiliki
konsekuensi. Denda hanya berlaku di manajemen perusahaan, manajemen
pemerintahan dan tak ada dalam kehidupan.
Seseorang yang merokok tentu ada yang mendapatkan peringatan dari istri di
rumah. Jangan merokok di rumah, jangan merokok didepan anak-anak, jangan
merokok terlalu banyak, ingat Kesehatan. Peringatan ini tak diindahkan, maka
ketika sakit dan berobat ke dokter, maka dokter juga menganjurkan untuk
mengurangi merokok atau disarankan berhenti. Bagi yang tetap kembali merokok,
terus mengalami sesak nafas, sakit paru-paru, atau sampai tak sadarkan diri dan
harus masuk ICU, maka yang bersangkutan menjadi tersadar dan berhenti untuk
merokok.
Konsekuensi terus meningkat ketika kita tak
mengindahkan peringatan. Hidup terus mengarah pada yang lebih baik, oleh karena
itu konsekuensi membawa dampak yang baik. Kami menerapkan konsekuensi untuk
penertiban karyawan bukan menerapkan denda. Besar kecilnya konsekuensi,
karyawanlah yang menetapkan. Kita hanya menetapkan sistem mekanisme
konsekuensi. Karyawan lebih menerima sistem konsekuensi daripada sistem denda.
Karyawan mendapatkan pemahaman melalui
program latihan berpikir Active Learning. Berbagi tuk bermanfaat.
Salam improvement.
Bila bermanfaat, bagikan melalui :